ads

LATEST UPDATES

Wisata Alam

Wisata Reliji

Wisata Sejarah

WIsata Jawa Tengah

Wisata Semarang

Rabu, 24 Desember 2014

Wisata Alam Tawangmangu

Air Terjun Jumog
Untuk Anda yang terbiasa hiking ke beberapa pegunungan, nama Objek wisata alamTawangmangu mungkin sudah tidak asing lagi di telinga Anda. Objek wisata alam tawangmangu sendiri merupakan sebuah tempat wisata pegunungan dengan objek andalan berupa air terjun yang jatuh dari ketinggian sekitar 81 meter.
Nama dari air terjun yang indah dan mempesona tersebut adalah air terjun Grojogan. udara disekitar air terjun sangat sejuk dan pas untuk rehat sejenak ketika Anda jalan-jalan kesini. Banyak juga diantara pengunjung yang tergiur untuk mandi di bawah air terjun yang tinggi ini.
Objek wista Tawangmangu sendiri terletak di ketinggian sekitar 1000 Meter di atas permukaan laut, tak heran udara disini sangat sejuk bahkan cenderung dingin.
Di Objek wisata ini, Anda bisa dengan mudah menemukan hotel atau vila-vila Indah yang siap disewa dengan harga terjangkau. terdapat juga beberapa tempat rekreasi dan tempat hiburan, bahkan lapangan golf juga tersedia disini.
Objek wisata Tawagmangu bisa ditempuh dengan kendaraan umum dari kota Solo atau Surakarta dengan lama perjalanan mencapai 1 jam jika jalanan lancar dan tidak macet.
Untuk Anda yang ingin mendaki gunung Lawu melalui desa Cemorosewu atau Cemorokandang, Anda bisa singgah sejenak di objek wisata ini. Jangan lupa untuk menyiapkan kamera terbaik Anda.

Goa Jatijajar Kebumen dan Legenda Lutung Kasarung



Goa Jatijajar adalah Goa Alam yang terletak di desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Goa ini terbentuk dari batu kapur dan telah diketemukan pada tahun 1802 oleh seorang petani yang memiliki tanah diatas Goa tersebut yang Bernama "Jayamenawi". Pada suatu ketika Jayamenawi sedang mengambil rumput, kemudian jatuh kesebuah lobang, ternyata lobang itu adalah sebuah lobang ventilasi yang ada di langit-langit Goa tersebut. Lobang ini mempunyai garis tengah 4 meter dan tinggi dari tanah yang berada dibawahnya 24 meter. 

Soal asal muasal Goa Jatijajar memang tidak banyak orang yang mengetahui secara persis, ada dua versi mengenai asal usul Goa Jatijajar. 

Pertama, setelah Jayamenawi menemukan gua, tak lama kemudian Bupati Ambal, salah satu penguasa Kebumen waktu itu, meninjau lokasi tersebut. Saat mendatangi goa, dia menjumpai dua pohon jati tumbuh berdampingan dan sejajar pada tepi mulut gua. Dari kisah itu lalu ditemukan istilah Jatijajar, dari kata jati yang sejajar.

Versi kedua, saat Kamandaka dikejar-kejar, dari dalam gua ia menyebutkan jati dirinya. Ia mengaku sebagai putra mahkota Pajajaran. Dari kisah itu muncul kata sejatine (sebenarnya) dan Pejajaran. Nama Gua Jatijajar lalu terkenal hingga saat ini
.
Dari sejumlah tempat wisata di Kabupaten Kebumen, Goa Jatijajar masih menjadi primadona. Terletak 21 km sebelah barat daya Kecamatan Gombong setiap tahun ramai dikunjungi pengunjung terutama saat liburan sekolah atau hari raya Lebaran. Pengunjung yang datang tak selalu dari masyarakat di sekitar Kebumen. Mereka ada pula yang datang dari kota-kota besar di Indonesia, yang tujuannya ingin mengetahui pesona alam di dalam perut bumi.

Goa Jatijajar berada di kaki pegunungan kapur yang memanjang dari utara dan ujungnya di selatan menjorok ke laut berupa sebuah tanjung. Objek wisata ini sungguh sangat menarik. Sebagaimana umumnya objek wisata lain di Indonesia, yang hampir selalu menyimpan legenda, Goa Jatijajar pun tak terkecuali.

Menurut cerita rakyat, Goa Jatijajar ini pada jaman dahulu merupakan tempat bersemedi Raden Kamandaka, yang kemudian mendapat wangsit. Cerita Raden Kamandaka ini kemudian dikenal dengan legenda Lutung Kasarung. 

Visualisasi dari legenda tersebut dapat kita lihat dalam diorama yang ada di dalam goa. Ketika masuk ke dalam ada rasa degdegan. Betapa tidak! Karena merasa seperti masuk ke dalam mulut binatang purba Dinosaurus yang gelap dan lembab. Namun rasa cemas itu segera sirna, sebab ruangan diterangi oleh lampu listrik dari ujung ke ujung. Meski mulut goa cukup lebar, namun ruang perut dinosaurus lebih lebar lagi. Pada langit-langit terdapat sebuah lubang sebagai ventilasi. Di tengah-tengah terdapat kursi melingkar tempat duduk pengunjung sambil menikmati indahnya ornamen stalagtit dan stalagnit serta diorama legenda Lutung Kasarung.

Banyak keistimewaan yang ditawarkan dari obyek wisata Gua Jatijajar. Di dalam goa terdapat sungai bawah tanah yang masih aktif. Ada juga dua sendang, yakni Sendang Kantil dan Sendang Mawar. Di dua sendang yang bisa didekati pengunjung itu masih dipercayai, yang mau membasuh muka dengan air sendang bisa awet muda.


Aliran Sungai di Dalam Goa Jatijajar
Aliran air dari Sendang Mawar melewati lubang sempit hingga tembus luar goa. Namun pada dasar Sendang Kantil dijumpai lubang sempit memanjang, sehingga menelusuri goa itu harus melalui penyelaman. Masih ada lagi dua sendang, yakni Sendang Jombor dan Puserbumi. Kedua sendang ini dikeramatkan. Hanya dengan izin pengelola, lorong goa itu boleh dilalui. Orang tertentu yang punya keinginan, dengan menaruh sesaji di sendang itu, konon akan dikabulkan doanya.
 
Melihat potensi yang luar biasa maka pada tahun 1975 Gubernur Jawa Tengah waktu itu yaitu Bapak. Suparjo Rustam, Goa Jatijajar mulai dibangun dan dikembangkan menjadi Objek Wisata Budaya, sebagai pelaksananya ditunjuk langsung seorang seniman Deorama yang terkenal di Indonesia pada masa itu yang bernama Bapak Saptoto.
Pemda Kebumen membebaskan lahan penduduk setempat seluas 5,5 ha, dengan mengganti rugi tanah penduduk yang terkena lokasi pembangunan Objek Wisata Goa Jatijajar. Setelah selesai proses pembangunan Goa Jatijajar, pengelolaan Objek Wisata tersebut  diserahkan kepada Pemda Kebumen.
Objek Wisata Goa Jatijajar sangat identik dengan Objek Wisata Budaya, karena Goa Jatijajar ada hubungannya dengan sebuah cerita legenda Raden Kamandaka seorang putera makhkota Kerajaan Pajajaran yang bernama asli Banyak Cokro atau Banyak Cakra, yang lebih terkenal sebuah cerita legenda Lutung Kasarung.
Cerita  “Lutung Kasarung”  Di balik Goa JatiJajar
.
Lutung Kasarung adalah sebuah legenda masyarakat Jawa Barat yang cukup terkenal. Pada jaman dahulu kala di daerah Jawa Barat terdapat sebuah Kerajaan Hindu yang besar dan cukup kuat, yang berpusat di Kota Bogor sekarang ini. Kerajaan Itu adalah kerajaan Pajajaran,  Tetapi cerita Lutung Kasarung sendiri lebih banyak terjadi di daerah Banyumas. Jawa Tengah  Pada saat itu Raja yang memerintah di Kerajaan Pajajaran adalah Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi sudah lanjut usia saat Itu dan bermaksud untuk mengangkat Putra Mahkotanya untuk menggantikannya sebagai Prabu di Pajajaran.

Diorama yang menceritakan Kisah Lutung Kasarung
Prabu Siliwangi mempunyai tiga Orang Putra dan Satu Orang Putri, ke-3 Putera dan Seorang Puteri ini dia peroleh dari dua Orang Permaisurinya. Dari permaisuri yang pertama Ia mendapatkan dua Orang putra yaitu Banyak Cotro dan Banyak Ngampar. Namun sewaktu Banyak Cotro dan Banyak Ngampar masih kecil Ibunya telah meninggal.
Sepeninggal isteri pertamanya, maka Prabu Siliwangi akhirnya menikah lagi dengan permaisuri yang kedua, yaitu Dewi Kumudaningsih. Pada waktu Dewi Kumudangingsih diambil menjadi
permaisuri oleh Prabu Siliwangi, Ia mengadakan sebuah perjanjian, bahwa jika kelak Ia mempunyai putra dari Dewi Kumudaningsih, maka putranyalah yang harus menggantikannya menjadi raja di Pajajaran. Dari perkawinannya dengan Dewi Kumudaningsih, Prabu Siliwangi mempunyai seorang putra dan seorang putri, yaitu Banyak Blabur dan Dewi Pamungkas.
Suatu hari Prabu Siliwangi memanggil putra mahkotanya Banyak Cotro dan Banyak Blabur untuk menghadap, maksudnya ialah Prabu Siliwangi akan mengangkat putranya untuk menggantikan menjadi Raja di Pajajaran karena beliau sudah lajut usia. Namun dari kedua putra mahkotanya belum ada satupun yang mau diangkat menjadi Raja di Pajajaran. Sebagai putra sulungnya Banyak Cotro mengajukan beberapa alasan, antara lain alasannya adalah: untuk memerintah di Kerajaan Pajajaran Dia belum siap, karena belum cukup ilmu. Untuk memerintah 

di Kerajaan seorang Raja harus ada Permaisuri yang mendampinginya, sedangkan Banyak Cotro belum menikah. Banyak Cotro mengatakan bahwa Dia baru akan menikah kalau sudah bertemu dengan seorang Putri yang parasnya mirip dengan paras mendiang Ibunya. Oleh sebab itu Banyak Cotro meminta ijin pergi dari Kerajaan Pajajaran untuk mencari Putri yang menjadi idamannya.
Kepergian Banyak Cotro dari Kerajaan Pajajaran melalui Gunung Tangkuban Perahu adalah untuk menghadap seorang Pendeta yang menjadi pertapa yang berdiam di sana. Pendeta itu tidak lain adalah Ki Ajar Winarong, seorang pendeta sakti yang tahu bagaimana agar keinginan Banyak Cotro mempersunting putri yang di idam-idamkannya dapat tercapai.
Setelah berhasil bertemu dengan Ki Ajar Winarong, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh Banyak Cotro. Yaitu dia harus rela melepas dan menanggalkan semua pakaian kebesaran dari kerajaan dan hanya memakai pakaian rakyat biasa. Dan Ia juga harus menyamar dengan nama samaran Arya Kamandaka. Karena keinginannya yang sangat kuat agar mampu mempersunting seorang isteri yang memiliki wajah semirip mendiang Ibunya, maka semua itu Ia jalani dengan senang hati.
Arya Kamandaka mulai berjalan selama berhari-hari dari Tangkuban Perahu menyusuri ke arah timur hingga sampailah Arya Kamandaka di wilayah Kadipaten Pasir Luhur. Secara kebetulan ketika Arya Kamandaka sampai di wilayah Kadipaten Pasir Luhur, Arya Kamandaka betemu dengan Patih di Kadipaten Pasir Luhur itu yang bernama Patih Reksonoto. Karena Patih Reksonoto sudah tua ditambah lagi dia tidak mempunyai anak, maka Arya Kamandaka akhirnya dijadikan anak angkat oleh Patih Reksonoto. Patih Reksonoto sangat mencintainya merasa sangat bangga dan senang hatinya mempunyai putra angkat Arya Kamandaka yang gagah dan tampan.
Adapun waktu itu yang memerintah di Kadipaten Pasir Luhur adalah Adipati Kanandoho. Adipati Kanandoho mempunyai beberapa orang putri yang kesemuanya sudah bersuami terkecuali puterinya yang bungsu yaitu Dewi Ciptoroso. Ketika Arya Kamandaka melihat Dewi Ciptoroso, putri Adipati Kanandoho yang mempunyai wajah sangat mirip dengan mendiang Ibu dari Arya Kamandaka. Segeralah Arya Kamandaka tersadar bahwa dia telah menemukan apa yang dicarinya selama Ini.
Adalah suatu kebiasaan tahunan dari Kadipaten Pasir Luhur, bahwa setiap tahun di Kadipaten Pasir Luhur selalu diadakan upacara menangkap ikan di Sungai Logawa. Dalam upacara ini, semua anggota keluarga Kadipaten Pasir Luhur beserta seluruh pembesar dan pejabat pemerintah di Kadipaten Pasir Luhur turut menangkap ikan di Kali Logawa.
Pada waktu Patih Reksonoto pergi mengikuti upacara menangkap ikan di Kali Logawa, tanpa diketahui oleh sang patih, Arya Kamandaka secara diam-diam mengikutinya dari belakang. pada kesempatan inilah Arya Kamandaka dapat bertemu langsung dengan Dewi Ciptoroso dan bak gayung bersambut mereka berdua saling jatuh cinta. Dewi Ciptoroso meminta agar Arya Kamandaka pada malam harinya datang untuk menjumpai Dewi Ciptoroso di taman kaputren kadipaten Pasir Luhur tempat Dewi Ciptoroso berada. Pada malam harinya Arya Kamandaka dengan diam-diam tanpa seijin dan sepengetahuan Patih Reksonoto pergi menjumpai Dewi Ciptoroso yang sudah menanti kedatangan Arya Kamandaka.
Keberadaan Arya Kamandaka di taman kaputren Kadipaten Pasir Luhur bersama Dewi Ciptoroso, ternyata diketahui oleh para prajurit kadipaten, hal ini kemudian dilaporkan oleh kepala pasukan kepada Adipatih Kandandoho. Adipatih sangat marah dan memerintahkan prajuritnya untuk menangkap penyusup tersebut. Namun karena kesaktian yang dimiliki oleh Arya Kamandaka, maka Arya Kamandaka dapat meloloskan diri dari kepungan prajurit Kadipaten Pasir Luhur. Sebelum Arya Kamandaka meloloskan diri dari taman kaputren, Ia masih sempat mengatakan identitasnya. Bahwa Ia adalah anak angkat Patih Reksonoto yang bernama Arya Kamandaka.
Berita tentang pengakuan ini dilaporkan kepada Adipatih Kandandoho, maka kemudian Patih Reksonoto pun dipanggil dan diminta harus menyerahkan putranya Arya Kamandaka. Perintah ini walaupan dengan hati yang sangat berat akhirnya dilaksanakan juga oleh Patih Reksonoto. namun dengan siasat dari Patih Reksonoto, maka Arya Kamandaka berhasil lari dan selamat dari pengejaran para prajurit Kadipaten Pasir Luhur.
Arya Kamandaka terjun kedalam sungai dan terus menyelam mengikuti arus air sungai. Oleh Patih Reksonoto dan para prajurit kadipaten yang mengejar, dilaporkan kepada Adipati Kanandoho bahwa Arya Kamandaka sudah mati didalam sungai. Mendengar berita ini Adipatih Kanandoho merasa lega dan puas. Dewi Ciptoroso ketika mendengar berita ini sangatlah sedih mengetahui pria yang dicintainya telah tiada.
Sepanjang malam pengejaran itu Arya Kamandaka terus menyelam mengikuti arus sungai hingga bertemu dengan seorang yang bernama rekajaya yang sedang memancing di Sungai. Arya Kamandaka dan Rekajaya kemudian menjadi teman baik dan menetap di Desa Panagih. selama di Desa ini Arya Kamandaka kembali diangkat anak oleh Mbok Kertosuro, seorang janda miskin yang hidup di Desa tersebut.
Arya Kamandaka menjadi seorang penggemar Adu Ayam. Mbok Kertosuro mempunyai seekor Ayam Jago yang dia beri nama mercu. Dalam setiap penyabungan Ayam yang diikuti oleh Arya Kamandaka, Ia selalu menang. Nama Arya Kamandaka menjadi sangat terkenal dikalangan pebotoh Ayam. Hal ini akhirnya sampai juga ke telinga Adipatih Kanandoho, mengetahui kalau Arya Kamandaka belum mati membuatnya sangat marah dan murka. Adipatih Kanandoho kemudian memerintahkan prajuritnya untuk menangkap Arya Kamandaka baik hidup atau mati.
Pada saat itu datanglah seorang pemuda tampan yang mengaku dirinya bernama Silihwarni, Silihwarni berkeinginan mengabdikan diri kepada Adipati Pasir Luhur. Permohonannya di terima oleh sang sdipati dengan syarat Ia hanya akan diterima apabila berhasil membunuh Arya Kamandaka. Untuk membuktikan kalau Arya Kamandaka telah berhasil dibunuh maka Ia harus membawa darah dan hati Arya Kamandaka.
Silihwarni ternyata hanyalah sebuah nama samaran, Silihwarni bukan lain adalah Banyak Ngampar putra Prabu Siliwangi yang adalah adik kandung dari Banyak Cotro atau Arya Kamandaka. Silihwarni oleh Ayahnya ditugaskan untuk mencari Banyak Cotro saudara kandungnya sudah lama pergi dan belum kembali, Ia dibekali oleh ayahnya dengan pusaka keris Kujang Pamungkas sebagai senjatanya dan dalam menyamar Ia memakai nama Silihwarni dan berpakaian seperti rakyat biasa. Karena Silihwarni mendengar kabar bahwa kakaknya berada di wilayah Kadipaten Pasir Luhur, maka Ia pun pergi kesana. Setelah Silihwarni menerima perintah dari adipatih, pergilah Ia dengan diikuti beberapa orang prajurit Kadipaten dan Anjing pelacak menuju ke Desa Karang Luas, tempat arena penyabungan Ayam.
Ditempat inilah kedua kakak beradik ini bertemu, namun keduanya sama - sama sudah tidak saling mengenal lagi, karena Silihwarni yang menyamar menggunakan pakaian rakyat biasa sedangkan Arya Kamandaka memakai pakaian sebagai pebotoh Ayam. Terjadilah pertarungan sengit antara Arya Kamandaka dan Silihwarni, tanpa disadari oleh Raden Kamandaka tiba-tiba Silihwarni menikam pinggang Raden Kamandaka dengan Keris Kujang Pamungkasnya. Luka goresan keris itu menyebabkan darah mengalir dengan derasnya. Namun lagi - lagi Arya Kamandaka dapat meloloskan diri dari bahaya, tempat itu pun kemudian diberi nama Desa Brobosan, yang berarti ia dapat lolos dari bahaya.
Ketika luka Arya Kamandaka semakin mengeluarkan darah, Iapun memutuskan untuk beristirahat sebentar disuatu tempat, maka tempat itu dinamakan bancaran. Larinya Arya Kamandaka terus dikejar oleh Silihwarni dan prajurit kadipaten. Sampai suatu tempat Arya Kamandaka berhasil menangkap Anjing pelacaknya dan kemudian tempat itu di beri nama Desa Karang Anjing. Arya Kamandaka terus berlari kearah timur dan sampailah Arya Kamandaka pada sebuah jalan buntu dan tempat ini Ia beri nama Desa Buntu. Akhirnya Arya Kamandaka sampai disebuah goa. Didalam goa Ini Arya Kamandaka beristirahat dan bersembunyi dari Kejaran Silihwarni. Silihwarni yang terus mengejar akhirnya kehilangan jejak sampai di goa  tempat Arya Kamandaka beristirahat, kemudian Silihwarni berseru menantang Arya Kamandaka. Mendengar tantangan Silihwarni, Arya Kamandaka pun menjawab dan Ia mengatakan identitasnya yang sebenarnya, bahwa Ia adalah putra dari Kerajaan Pajajaran namanya Banyak Cotro. Silihwarnipun mengatakan identitasnya bahwa Ia juga adalah putra dari Kerajaan Pajajaran, bernama banyak ngampar. demikian kata-kata Ayang pengakuan antara Raden Kamandaka dan Silihwarni bahwa mereka adalah putra Pajajaran. Kemudian mereka berdua berpelukan dan saling memaafkan, goa itu akhirnya diberi nama GOA JATIJAJAR.
Namun karena Silihwarni harus pulang dan membawa bukti hati dan darah Arya Kamandaka, maka dibunuhnyalah Anjing pelacak kemudian dipotong diambil darah dan hatinya, sebagai bukti bagi Adipati Kanandoho kalau itu adalah hati dan darah Arya Kamandaka yang berhasil dibunuhnya. Arya Kamandaka kemudian bertapa di dalam Goa Jatijajar dan mendapat petunjuk bahwa niatnya untuk mempersunting Dewi Ciptoroso akan tercapai kalau Ia sudah mendapat pakaian lutung dan Arya Kamandaka disuruh supaya mendekat ke Kadipaten Pasir Luhur dan menetap di hutan Batur Agung, sebuah hutan sebelah barat daya dari Batu Raden.
Kegemaran dari adipatih Kadipaten Pasir Luhur adalah berburu. Pada suatu hari adipatih dan semua keluarganya pergi berburu, tiba-tiba bertemulah rombongan pemburu itu dengan seekor Lutung yang sangat besar dan jinak. Akhirnya di tangkaplah Lutung tersebut hidup-hidup. Sewaktu Lutung itu akan dibawa pulang, tiba-tiba datanglah Rekajaya dan mengaku bahwa Lutung itu adalah Lutung peliharaannya, dan mengatakan bersedia membantu merawatnya jika Lutung itu akan dipelihara di Kadipaten Pasir Luhur. Dan permohonan Rekajaya itu pun dikabulkan oleh sang adipati.
Setelah sampai di Kadipaten Pasir Luhur, para putri saling berebut ingin memelihara Lutung tersebut. Selama itupula Lutung tersebut tidak mau dikasih makan oleh siapapun juga. Akhirnya oleh Adipati Pasir Luhur, Lutung tersebut disayembarakan. Isi sayembara itu adalah barangsiapa dari para puterinya yang dapat memberi makan sang Lutung, maka dialah yang berhak memelihara Lutung tersebut. Dalam sayembara itu ternyata makanan yang diterima oleh Lutung tersebut hanyalah makanan yang diberikan oleh Dewi Ciptoroso. Maka Lutung Kasarung itupun menjadi peliharaan Dewi Ciptoroso. Pada malam hari Lutung Kasarung alias Arya Kamandaka tersebut berubah wujud aslinya menjadi Arya Kamandaka. Sehingga hanya Dewi Ciptoroso yang tahu tentang hal tersebut. Pada siang hari Ia berubah lagi kembali menjadi Lutung Kasarung. Maka keadaan Dewi Ciptoroso kini menjadi sangat gembira dan bahagia, yang selalu ditemani Lutung Kasarung alias Arya Kamandaka yang dicintainya.
Pada suatu hari ada seorang penguasa dari Nusa Kambangan bernama Prabu Pule Bahas menyuruh patihnya untuk meminang Dewi Ciptoroso dan mengancam apabila pinangannya pada Dewi Ciptoroso ditolak, maka Ia akan menghancurkan Kadipaten Pasir Luhur. Atas permintaan dari Lutung Kasarung, maka pinangan Raja Pule Bahas agar supaya diterima saja. Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh Raja Pule Bahas agar pinangannya itu diterima oleh Dewi Ciptoroso. Salah satunya ialah dalam pertemuan para calon pengantin nanti, maka Lutung Kasarung harus turut mendampingi Dewi Ciporoso. Pada waktu pertemuan para calon pengantin berlangsung, Raja Pule Bahas selalu diganggu oleh Lutung Kasarung yang mendampingi Dewi Ciptoroso. Hal ini menyebabkan Raja Pule Bahas marah dan memukul Lutung Kasarung yang memang telah siap bertarung melawan Raja Pule Bahas.
Pertarungan yang terjadi antara Raja Pule Bahas melawan Lutung Kasarung terjadi sangat seru. Namun karena kesaktian Lutung Kasarung, akhirnya Raja Pule Bahas gugur setelah dicekik dan digigit oleh Lutung Kasarung. Ketika Raja Pule Bahas telah gugur, Lutung Kasarung pun kemudian menjelma menjadi Arya Kamandaka dan langsung mengenakan pakaian kebesaran kerajaan pajajaran dan mengatakan bahwa namanya yang sebenarnya adalah Raden Banyak Cotro. Kini Adipatih Pasir Luhur pun mengetahui kalau Arya Kamandaka adalah Raden Banyak Cotro dan adalah Lutung Kasarung putra mahkota dari Kerajaan Pajajaran, akhirnya Ia dikawinkan dengan Dewi Ciptoroso.
Karena Raden Kamandaka sudah cacat terkena Keris Kujang Pamungkas sewaktu bertarung melawan adiknya yang menyamar sebagai Silihwarni, maka dia tidak dapat lagi menggantikan ayahandanya menjadi Raja di Pajajaran. Karena tradisi Kerajaan Pajajaran, bahwa setiap putra mahkota yang akan menggantikan posisi raja tidak boleh cacat terkena pusaka Kujang Pamungkas. Sehingga setelah Ia dinikahkan dengan Dewi Ciptoroso, Arya Kamandaka menjadi Adipatih di Pasir Luhur menggantikan mertuanya. Sedangkan yang menjadi Raja di Pajajaran adalah Banyak Blabur adiknya.
Itulah kisah Lutung Kasarung, yang sebenarnya cerita tersebut terjadi di wilayah Jawa Tengah tepatnya di Banyumas, karena Kerajaan Pasir Luhur berada di sekitar wilayah Purwokerto. Kebetulan Goa Jatijajar ada dalam cerita tersebut. Pada waktu itu Wilayah Gombong sampai dengan Sungai LukUlo menjadi kekuasaan Kerajaan Pajajaran, sedang sebelah timur Sungai LukUlo termasuk kota Kebumen menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Asal crita Lutung Kasarung tidak jadi soal, yang penting sudahkah Anda singgah di Goa Jaijajar. Anda akan di suguhi panorama alam yang luar biasa dengan di bumbuhi Biorama cerita Arya Kamandoko. Untuk fasilitas tempat jangan kuatir Pemda Kebumen sudah menatanya dengan rapi demi kenyamanan kedatangan Anda semua.

OBYEK WISATA DIENG

OBYEK WISATA DIENG

Berbagai obyek Wisata Menarik bisa anda jumpai di Negeri Para Dewa ini. Wisata alamnya yang asri dan alami cocok bagi anda yang merindukan suasana pegunungan sebagai alternatif berlibur. Puing Sejarah yang tersisa didataran Tinggi Dieng pun menarik untuk disimak. Latar belakang Kisah yang melingkupinya bisa menjadi penambah wawasan selagi anda berwisata.
Suhu udara Dieng relatif Dingin ( antara 8 derajat celcius hingga 15 Derajat celcius, Bahkan bisa mencapai 0 derajat pada malam hari di musim-musim tertentu ). Meski begitu, ternyata hal tersebut tidak menghalangi antusias Wisatawan yang statistik jumlah kunjungannya semakin hari semakin meningkat.
Beberapa peninggalan budaya dan alam yang dijadikan sebagai objek wisata dan dikelola bersama oleh dua kabupaten(Banjarnegara dan Wonosobo) diantaranya

SIKUNIR SUNRISE DIENG

SIKUNIR SUNRISE DIENG
Telor Ceplok Raksasa di Desa Tertinggi di Pulau Jawa ...selengkapnya

TELAGA WARNA DIENG

Telaga Warna Dieng
Telaga Warna masuk wilayah Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo Jawa-tengah ...selengkapnya

CANDI DIENG

CANDI DIENG
Dulu kala, candi-candi di Dieng sempat tenggelam dan terkubur dalam rawa-rawa ... selengkapnya

KAWAH KAWAH DI DIENG PLATEAU

KAWAH KAWAH DI DIENG PLATEAU
Jika anda berkunjung ke telaga warna, Lewat Jalur setapak ke jalur kiri, anda juga akan menemukan sisa-sisa aktifitas kawah sikidang yang meski sud ... selengkapnya

JELAJAH GUNUNG PRAU

JELAJAH GUNUNG PRAU
Waktu yang tepat untuk mengunjungi gunung prau adalah di musim kemarau ... selengkapnya

CANDI BOROBUDUR Mahakarya Arsitektur Abad ke-9



Jauh sebelum Angkor Wat berdiri di Kamboja dan katedral-katedral agung ada di Eropa, Candi Borobudur telah berdiri dengan gagah di tanah Jawa. Bangunan yang disebut UNESCO sebagai monumen dan kompleks stupa termegah serta terbesar di dunia ini ramai dikunjungi oleh peziarah pada pertengahan abad ke-9 hingga awal abad ke-11. Umat Buddha yang ingin mendapatkan pencerahan berduyun-duyun datang dari India, Kamboja, Tibet, dan China. Tidak hanya megah dan besar, dinding Candi Borobudur dipenuhi pahatan 2672 panel relief yang jika disusun berjajar akan mencapai panjang 6 km! Hal ini dipuji sebagai ansambel relief Buddha terbesar dan terlengkap di dunia, tak tertandingi dalam nilai seni.
Relief yang terpahat di dinding candi terbagi menjadi 4 kisah utama yakni Karmawibangga, Lalita Wistara, Jataka dan Awadana, serta Gandawyuda. Selain mengisahkan tentang perjalanan hidup Sang Buddha dan ajaran-ajarannya, relief tersebut juga merekam kemajuan masyarakat Jawa pada masa itu. Bukti bahwa nenek moyang Bangsa Indonesia adalah pelaut yang ulung dan tangguh dapat dilihat pada 10 relief kapal yang ada. Salah satu relief kapal dijadikan model dalam membuat replika kapal yang digunakan untuk mengarungi The Cinnamon Route dari Jawa hingga benua Afrika. Saat ini replika kapal yang disebut sebagai Kapal Borobudur itu disimpan di Museum Samudra Raksa.
Untuk mengikuti alur jalinan kisah yang terpahat pada dinding candi, pengunjung harus berjalan mengitari candi searah jarum jam atau yang dikenal dengan istilah pradaksina. Masuk melalui pintu timur, berjalan searah jarum jam agar posisi candi selalu ada di sebelah kanan, hingga tiba di tangga timur dan melangkahkan kaki naik ke tingkat berikutnya. Hal ini dilakukan berulang-ulang hingga semua tingkat terlewati dan berada di puncak candi yang berbentuk stupa induk. Sesampainya di puncak, layangkanlah pandangan ke segala arah maka akan terlihat deretan Perbukitan Menoreh, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu yang berdiri tegak mengitari candi. Gunung dan perbukitan tersebut seolah-olah menjadi penjaga yang membentengi keberadaan Candi Borobudur.
Berdasarkan prasasti Kayumwungan yang bertanggal 26 Mei 824, Candi Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga antara abad ke-8 hingga abad ke-9, berbarengan dengan Mendut dan Pawon. Proses pembangunan berlangsung selama 75 tahun di bawah kepemimpinan arsitek Gunadarma. Meski belum mengenal komputer dan peralatan canggih lainnya, Gunadarma mampu menerapkan sistem interlockdalam pembangunan candi. Sebanyak 60.000 meter kubik batu andesit yang berjumlah 2.000.000 balok batu yang diusung dari Sungai Elo dan Progo dipahat dan dirangkai menjadi puzzle raksasa yang menutupi sebuah bukit kecil hingga terbentuk Candi Borobudur.
Borobudur tidak hanya memiliki nilai seni yang teramat tinggi, karya agung yang menjadi bukti peradaban manusia pada masa lalu ini juga sarat dengan nilai filosofis. Mengusung konsep mandalayang melambangkan kosmologi alam semesta dalam ajaran Buddha, bangunan megah ini dibagi menjadi tiga tingkatan, yakni dunia hasrat atau nafsu (Kamadhatu), dunia bentuk (Rupadhatu), dan dunia tanpa bentuk (Arupadhatu). Jika dilihat dari ketinggian, Candi Borobudur laksana ceplok teratai di atas bukit. Dinding-dinding candi yang berada di tingkatan Kamadatu dan Rupadatu sebagai kelopak bunga, sedangkan deretan stupa yang melingkar di tingkat Arupadatu menjadi benang sarinya. Stupa Induk melambangkan Sang Buddha, sehingga secara utuh Borobudur menggambarkan Buddha yang sedang duduk di atas kelopak bunga teratai.
Menikmati kemegahan Candi Borobudur tidak hanya cukup dengan berjalan menyusuri lorong dan naik ke tingkat teratas candi. Satu hal yang jangan dilewatkan adalah menyaksikan Borobudur Sunrise dan Borobudur Sunset dari atas candi. Siraman cahaya mentari pagi yang menerpa stupa dan arca Buddha membuat keagungan dan kemegahan candi lebih terasa. Sedangkan berdiri di puncak candi di kala senja bersama deretan stupa dan menyaksikan sinar matahari yang perlahan mulai lindap akan menciptakan perasaan tenang dan damai.

Pantai Ayah, Kebumen

Keindahan Pantai Ayah di Kebumen, Jawa Tengah



Pantai Ayah, atau juga dikenal sebagai Pantai Logending, adalah salah satu obyek wisata pantai yang terletak di Kebumen, Jawa Tengah.

Pantai Ayah, atau juga dikenal sebagai Pantai Logending, adalah salah satu obyek wisata pantai yang terletak di Kebumen, Jawa Tengah. Objek wisata ini cukup terkenal karena menggabungkan antara wisata hutan dengan wisata bahari, yakni Hutan Wisata Logending dan Pantai Ayah. Nama Logending itu sendiri berasal dari kata "Lo" dan "Gending", di mana "Lo" adalah nama sebuah pohon yang kayunya dapat dicampur ke dalam alat musik dalam bahasa Jawa yang disebut Java Gending, kedua kata tersebut digabungkan sehingga menjadi kata Logending.

Hutan Wisata Logending merupakan hutan jati Selatan milik Perum Perhutani dekat pantai Kedu. Konon menurut cerita pada Zaman dahulu, hutan Pantai Logending digunakan sebagai pengawasan dan pos penjagaan oleh tentara Belanda dan Jepang selama menduduki Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan warisan benteng yang terletak di pantai atau di pegunungan Logending. Pada tahun-tahun 1948-1950, ketika terjadi revolusi di Indonesia, hutan Logending juga telah digunakan sebagai tempat persembunyian para pejuang militer dalam mempertahankan wilayah tersebut.

Pantai yang berjarak sekitar 8 km dari obyek wisata Gua Jatijajar ini, memiliki pemandangan alam yang indah dengan air yang jernih, serta hamparan pasir luas dan landai. Dalam kawasan wisata ini, pengunjung dapat menghirup udara segar sambil berjalan menyusuri pantai. Tidak hanya itu, pengunjung juga bisa bermain sepakbola, voli pantai, serta duduk santai di atas hamparan pasir.

Setelah puas menikmati pantai, pengunjung dapat menuju kawasan hutan Logending yang terletak puluhan meter dari pantai. Di hutan ini ada berbagai macam tanaman yang merupakan tanaman lokal yang langka. Salah satu tanaman langka yang dapat ditemukan di hutan ini adalah kayu mahoni Afrika. Tanaman ini jarang ditemukan di hutan lain di Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu kawasan hutan juga dijadikan sebagai tempat penelitian tanaman langka serta pengembangan mahoni Afrika.

daya tarik lain yang tak kalah menarik untuk dikunjungi adalah Pantai indah muara ayah Bodo, yaitu sungai yang memisahkan wilayah Kabupaten Kebumen dan Cilacap. Untuk menikmati pemandangan sungai ini, wisatawan dapat berkeliling dengan menyewa perahu nelayan setempat. Sepanjang sungai, pengunjung dapat melihat air tenang Bodo, pohon tebal payau di tepi sungai, dan properti Perum Perhutani yang tampak rapi dan hijau.

Bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana objek wisata di malam hari, dapat mendirikan tenda untuk berkemah di situs Perum Perhutani yang terletak di hutan jati. Daerah berkemah yang luas, bersih, dan sejuk dirancang khusus bagi wisatawan yang suka berkemah saat bepergian.



Objek wisata ini cukup terkenal karena menggabungkan antara wisata hutan dengan wisata bahari, yakni Hutan Wisata Logending dan Pantai Ayah.

Pantai Ayah atau Hutan wisata Logending terletak di Distrik Kebumen, Propinsi Jawa Tengah atau sekitar 3 kilometer di sebelah selatan Gua Petruk atau sekitar 40 km dari kota Gombong. Untuk mencapai objek wisata ini, pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi (mobil), serta angkutan umum (bus). Jika pengunjung menggunakan kendaraan pribadi dari Kota Kebumen ke lokasi Pantai Ayah, akan menempuh jarak sekitar 20 km. Namun, bagi pengunjung yang ingin naik angkutan umum (bus), perjalanan dapat dimulai dari Terminal Kebumen. Dari terminal ini banyak bis yang melewati obyek wisata pantai Ayah, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam perjalanan.

Di pantai Ayah tersedia berbagai fasilitas, termasuk tempat-tempat berkemah, tempat untuk bersantai, area parkir yang luas, tempat ibadah, penginapan, arena permainan anak-anak, penyewaan perahu, pusat informasi pariwisata, dan lainnya. Ada juga warung yang menjual berbagai jenis makanan dan minuman, suvenir (kerajinan anyaman pandan, kerajinan juling), dan pedagang yang menjajakan ikan laut dalam kondisi segar. Selain itu bagi pengunjung yang ingin membawa pulang souvenir yang khas dari Kebumen "grobi" dan gula kelapa, dapat dengan mudah mendapatkannya, karena di daerah wisata banyak toko yang menjual barang baik dengan harga yang cukup murah.


Sumber: http://cinta-wisatanusa.blogspot.com/2012/05/keindahan-pantai-ayah-di-kebumen-jawa.html

Museum Jawa Tengah Ranggawarsita Semarang


Museum ronggowarsito patung kuda
Museum Ranggawarsita Abdulrahman Saleh semarang Jawa Tengah
Museum yang terletak di jalan Abdurrahman Saleh ini merupakan museum terlengkap di Semarang yang memiliki koleksi sejarah, alam, arkeologi, kebudayaan, era pembangunan dan wawasan nusantara. Dengan nama yang diambil dari nama salah satu pujangga Indonesia, Ranggawarsita, yang terkenal dengan hasil karyanya dalam bidang filsafat dan kebudayaan, museum ini menempati luas tanah 1,8 hektare, museum ini dibuka setiap hari pukul 08.00 sampai 16.00 wib. Berjarak kurang lebih 3 Km dari tugumuda. Dan dapat dijangkau dengan transportasi umum maupun pribadi.
Museum Ranggawarsita mempunyai koleksi yang berjumlah 59.802 buah yang terbagi dalam 10 jenis, yaitu geologi, biologi, arkeologi, historika, filologi, numismatic, heraldika, kramologika, teknologika, ethnografika dan seni rupa. Museum Jawa Tengah Ranggawarsita merupakan sebuah aset pelayanan publik di bidang pelestarian budaya, wahana pendidikan dan rekreasi. Pendirian museum pertama kali dirintis oleh proyek rehabilitasi dan permuseuman Jawa Tengah pada tahun 1975 dan secara resmi dibuka oleh Prof Dr Fuad Hasan pada tanggal Juli 1989.
Gajah purba museum ranggawarsita
Museum Jawa Tengah Ranggawarsita Semarang:
Alamat: Jl Abdulrahman Saleh No 1 Kalibanteng Kulon Semarang Jawa Tengah.
Nomor Telepon: 024 7602389.
Email: info@museumranggawarsita.com
Website Resmi: www.museumranggawarsita.com
Jam layanan pukul 08.00 – 16.00 WIB, buka setiap hari termasuk akhir pekan dan libur nasional.
Harga Tiket Dewasa Rp 4.000,- anak anak Rp 2.000.
Sumber : http://seputarsemarang.com/museum-ronggowarsito-semarang-abdulrahman-saleh-3460

MURI Museum Rekor Dunia Indonesia


muri museum rekor indonesia

Museum Rekor Dunia Indonesia didirikan atas prakarsa Jaya Suprana di kawasan industri Jamu JAGO Jalan Perintis Kemerdekaan Semarang pada 27 Januari 1990 dan diresmikan oleh Menko Polkam Soedomo dan Menko Kesra Soepardjo Roestam disaksikan oleh Ketua PMI Pusat Ibnu Soetowo dan Gubernur Jawa Tengah, HM Ismail. Museum Rekor Dunia Indonesia kemudian lebih popular dengan sebutan MURI yang diberikan oleh Soepardjo Roestam pada upacara peresmian MURI.
Gedung MURI sendiri berada di kawasan industri Jamu Jago Semarang. Luas ruang sekitar 600 m2 terdiri dari ruang ekshibisi data dan foto MURI, balai pertemuan dan ruang eskhibisi Museum Jamu Jago yang menampilkan foto-foto dan benda-benda bersejarah perusahaan yang pada tahun 1918 di desa Wonogiri, Jawa Tengah oleh TK Suprana. MURI merupakan lembaga pertama di Indonesia yang khusus menghimpun data-data rekor superlatif di Indonesia. Pendirian dan pelaksanaan kegiatan MURI didukung sepenuhnya oleh kelompok- usaha Jamu JAGO.
Rekor-rekor yang diciptakan masyarakat untuk MURI bukan hanya rekor-nasional namun juga rekor-dunia. Edisi perdana BUKU MURI atas prakarsa Wakil Ketua Umum MURI, Aylawati Sarwono akan diterbitkan PT Elex Komputindo, kelompok Gramediapada HUT 19 dan ulang tahun ke-60 Pak Jaya Suprana.
Museum Rekor Dunia Indonesia terbuka untuk kunjungan umum tanpa dipungut biaya, setiap hari kerja Senin sampai Jumat mulai pukul 09.00 sampai dengan pukul 14.00. Untuk kunjungan siswa sekolah rombongan turis, lembaga dianjurkan membuat reservasi kunjungan selambat-lambatnya dua minggu di muka ke kantor MURI.
Kantor MURI Museum Rekor Dunia Indonesia
Alamat : Jalan Perintis Kemerdekaan No 275 Semarang.
Nomor Telepon : 024 7475172
Website: http://muri.org
Email : info[at]muri.org
Peta Lokasi MURI Museum Rekor Dunia Indonesia Semarang Srondol:
GPS Waypoint: 7°4’10.58”S (Latitude) 110°24?39.08” E (Longitude)
Google Map Refference (-7.069606,110.410856)
Jadi MURI bukan di JAKARTA ya… :)

Sumber : http://seputarsemarang.com/muri-museum-rekor-dunia-indonesia-7334
 

Top